Sejak dahulu, campak telah dikenal sebagai salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak, khususnya bayi dan balita. Campak sendiri termasuk dalam penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi campak diberikan dosis pertama saat anak umur 9 bulan dan dosis kedua saat anak berusia 18 bulan1. Kemudian dilanjutkan dengan dosis ketiga (booster) saat anak berusia 5-7 tahun2 yang diberikan sebagai bagian dari program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Meskipun banyak anggapan bahwa campak adalah penyakit biasa yang dialami anak sebagai proses kekebalan tubuh, realitasnya penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat3.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, proporsi anak yang telah memperoleh imunisasi campak dasar dan lanjutan di Provinsi Jawa Timur masing-masing sebesar 75,8% dan 64,7%4. Meski secara angka, cakupan imunisasi di Provinsi Jawa Timur lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, namun proporsi anak yang belum memperoleh imunisasi campak tidak dapat diabaikan begitu saja. Imunisasi campak diberikan untuk membentuk kekebalan kelompok terhadap penyakit campak dimana dibutuhkan cakupan imunisasi >95% untuk memperoleh kekebalan tersebut5. Jika kekebalan kelompok belum tercapai, maka anak yang sudah diimunisasi pun belum sepenuhnya aman dari campak.
Penanggulangan campak terdiri dari tiga tahapan, yaitu reduksi, eliminasi, dan eradikasi. Tahap reduksi adalah upaya meningkatkan cakupan imunisasi rutin dan imunisasi lanjutan. Tahap eliminasi salah satunya ditandai dengan cakupan imunisasi >95%. Cakupan imunisasi campak di Indonesia sempat mencapai angka 95,14% pada tahun 20196, sayangnya angka ini semakin menurun dan menyebabkan target eradikasi campak pada tahun 2020 tidak dapat tercapai.
Hingga awal Agustus, tercatat 40 KLB campak di 37 kabupaten dan kota di Indonesia sepanjang 2025, dengan jumlah kasus terkonfirmasi 3.282, merujuk data Kementerian Kesehatan7. Melihat fenomena ini, maka mari segera melengkapi imunisasi campak anak-anak kita agar mereka terhindar dari risiko sakit berat, cacat bahkan meninggal dunia karena penyakit menular berbahaya. Mari kita dukung dan membantu menyukseskan program imunisasi dari pemerintah dengan membagikan informasi-informasi yang terpercaya dan selektif dalam menerima kabar dari berbagai sumber. Silakan bertanya pada petugas kesehatan di polindes, puskesmas, klinik maupun tempat pelayanan kesehatan lain yang mudah dijangkau untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai imunisasi.
Salam sehat, sehat dimulai dari saya!
Sumber:
1Kemenkes, Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), 2024
2https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/imunisasi/imunisasi-campak-rubella/, diakses pada 27 Agustus 2025
3https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/penyakit-kulit--subkutan/campak, diakses pada 27 Agustus 2025
4Kemenkes, Survei Kesehatan Indonesia, 2023
5https://dinkes.kepriprov.go.id/blog/viewberita/apa-itu-herd-imunity#:~:text=Komunitas%20yang%20orang%2Dorang%20di,menjadi%20sangat%20beresiko%20untuk%20sakit., diakses pada 27 Agustus 2025
6Putri Nuraini Yahmal, FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK, Jurnal Medika Hutama Vol 03 No 01, Oktober 2021
7https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvgn3y9m4nxo, BBC News Indonesia, 25 Agustus 2025